Thursday, 28 November 2013

Kesetiaan Suami

Suatu hari, seorang nenek datang menemui
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Rasulullah bertanya, “Siapakah Anda wahai
nenek?”
“Aku adalah Jutsamah al-Muzaniah, ” jawab
wanita tua itu.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pun
berkata, “Wahai nenek, sesungguhnya aku
mengenalmu, engkau adalah wanita yang baik
hati, bagaimana kabarmu dan keluargamu,
bagaimana pula keadaanmu sekarang setelah
kita berpisah sekian lama?”
Nenek itu menjawab, “Alhamdulillah kami dalam
keadaan baik. Terima kasih, Rasulullah.”
Tak lama setelah nenek pergi meninggalkan
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
muncullah Aisyah RA seraya berkata, “Wahai
Rasulullah, seperti inikah engkau menyambut
dan memuliakan seorang wanita tua?”
Rasulullah menimpali, “Iya, dahulu nenek itu
selalu mengunjungi kami ketika Khadijah masih
hidup. Sesungguhnya melestarikan
persahabatan adalah bagian dari iman.”
Karena kejadian itu, Aisyah mengatakan, “Tak
seorang pun dari istri-istri nabi yang aku
cemburui lebih dalam selain Khadijah, meskipun
aku belum pernah melihatnya, namun
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seringkali
menyebutnya. Suatu kali beliau menyembelih
kambing lalu memotong-motong dagingnya dan
membagikan kepada sahabat-sahabat karib
Khadijah.”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menanggapinya dan berkata, “Wahai Aisyah,
begitulah realitanya. Sesungguhnya darinya aku
memperoleh anak.”
Dalam kesempatan lain, Aisyah berkata, “Aku
sangat cemburu dengan Khadijah karena sering
disebut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,
sampai-sampai aku berkata : Wahai Rasulullah
apa yang kau perbuat dengan wanita tua yang
pipinya kemerah-merahan itu, sementara Allah
subhanahu wata’ala telah menggantikannya
dengan wanita yang lebih baik?”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam
menjawab, “Demi Allah Subhanahu wata’ala, tak
seorang wanita pun lebih baik darinya. Ia
beriman saat semua orang kufur, ia
membenarkanku saat manusia mendustaiku, ia
melindungiku saat manusia kejam
menganiayaku, Allah Subhanahu wata’ala
menganugerahkan anak kepadaku darinya.”
Itulah sepenggal kisah tentang kesetiaan hakiki,
bukan kesetiaan semu. Kesetiaan imani, bukan
materi. Kesetiaan yang dilandaskan rasa cinta
kepada Allah Subhanahu wata’ala, bukan cinta
nafsu syaithani. Kesetiaan suami kepada istri
yang telah lama mengarungi rumah tangga
dalam segala suka dan duka.
Kecantikan Aisyah ternyata tidak begitu saja
memperdayakan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam untuk melupakan jasa baik dan
pengorbanan Khadijah, betapa pun usianya yang
lebih tua. Kesetiaan inilah yang membuat
cendikiawan muslim Nahzmi Luqa mengatakan,
“Ternyata kecemburuan Aisyah tidak mampu
melunturkan kesetiaan Nabi kepada Khadijah,
kesetiaan yang diteladani para pasangan
suami istri, sekaligus sebagai pukulan KO
(Knock Out) untuk para pecundang kehidupan
rumah tangga yang menjadi faktor
penghambat terwujudnya masyarakat
berperadaban. “
Kesetiaan… Kesetiaan… Sekali lagi, kesetiaan
merupakan sifat dan karakter setiap mukmin
sejati. Bukan kesetiaan duniawi, tetapi kesetiaan
ukhrawi. Kesetiaan khas dengan nilai-nilai Ilahi,
“Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang
beriman diri dan harta mereka dengan mahligai
surga, mereka berperang di jalan Allah, mereka
pun terbunuh atau membunuh. Adalah janji
sejati atasNya di dalam kitab Taurat, Injil, dan
Al-Qur’an. Siapakah yang lebih setia dari Allah
Subhanahu wata’ala akan janjiNya.
Bergembiralah dengan bai’at (sumpah setia)
yang kalian ikrarkan, itulah keberuntungan yang
besar.” (QS. At-Taubah : 111).

-asmyra4ever-

No comments:

Post a Comment